Sunnatullah tentang Pergantian Kaum
Sunnatullah tentang Pergantian Kaum adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 24 Safar 1448 H / 10 Agustus 2026 M.
Kajian Tentang Sunnatullah tentang Pergantian Kaum
وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
“Jika kamu berpaling, Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, kemudian mereka tidak akan seperti kamu.” (QS. Muhammad [47]: 38)
Makna yastabdil ialah Allah menggantikan kalian dengan kaum selain kalian. Mereka yang menggantikan itu tidak akan seperti kalian.
Apabila seorang muslim tidak membela agama Allah, Allah tidak rugi dan Islam tidak rugi. Kerugian kembali kepada orang yang berpaling, karena Allah mudah mengganti mereka dengan kaum lain. Karena itu, setiap muslim mengambil bagian dalam membela agama Allah dan berkontribusi untuk Islam sesuai kemampuan.
Allah Ta’ala menegaskan bahwa jika manusia berpaling, Allah akan mengganti mereka dengan kaum lain. Kaum pengganti itu tidak seperti kaum yang berpaling. Ini pernyataan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Peringatan dalam Surah At-Taubah
Penulis kemudian membawakan Surah At-Taubah ayat 38 tentang peringatan kepada orang-orang beriman ketika diperintahkan berangkat di jalan Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa apabila dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah,” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyukai kehidupan dunia daripada akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah [9]: 38)
إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Jika kamu tidak berangkat, niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain. Kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taubah [9]: 39)
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ
“Jika kamu tidak menolongnya, sungguh Allah telah menolongnya.” (QS. At-Taubah [9]: 40)
Apabila kaum beriman tidak menolong Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah tetap menolong beliau. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Muhammad ayat 38: apabila manusia berpaling, Allah akan mengganti mereka dengan kaum lain yang tidak seperti mereka.
Sifat Kaum yang Dimuliakan dengan Pertolongan Allah
Sifat kaum yang akan Allah datangkan dan muliakan dengan pertolongan-Nya dijelaskan dalam Al-Qur’an. Allah Jalla wa ‘Ala mengabarkan sifat mereka dalam Surah Al-Maidah ayat 54 sampai 56. Mereka adalah kaum yang luar biasa, yang Allah muliakan dengan kemenangan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya; mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela. Yang demikian itu adalah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah [5]: 54)
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan mereka rukuk.” (QS. Al-Maidah [5]: 55)
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ
“Siapa yang menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya golongan Allah itulah yang menang.” (QS. Al-Maidah [5]: 56)
Dari ayat ini, khususnya ayat ke-54, disebutkan tiga sifat. Sifat pertama adalah Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.
Sifat Pertama: Allah Mencintai Mereka dan Mereka Mencintai Allah
Cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya merupakan salah satu sifat Allah yang wajib ditetapkan dan diimani, tanpa tamsil, tanpa tahrif, dan tanpa takyif. Sikap yang benar adalah berhenti pada firman Allah Ta’ala dalam Surah Asy-Syura ayat 11.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)
Al-Qur’an dan sunnah dipenuhi penyebutan tentang hamba-hamba beriman yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keduanya juga dipenuhi penyebutan tentang amalan, ucapan, dan akhlak yang Allah cintai.
Di dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa Dia mencintai orang-orang yang sering bertobat dan orang-orang yang bersuci.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 222)
Allah Ta’ala juga mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 195)
Ihsan ada dua: ihsan kepada Allah dan ihsan kepada makhluk. Ihsan kepada Allah tampak ketika seseorang beribadah dengan khusyuk, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika tidak melihat-Nya, ia yakin bahwa Allah melihatnya. Ihsan kepada makhluk berarti berbuat baik kepada makhluk.
Dalam Surah Ali Imran ayat 146, Allah menyebutkan bahwa Dia mencintai orang-orang yang sabar.
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 146)
Sabar ada tiga. Pertama, sabar dalam menjalankan perintah Allah. Bangun sebelum Subuh, datang ke masjid, duduk menghadiri kajian, menulis, membaca, mendengarkan ilmu, dan berinfak semuanya membutuhkan kesabaran. Seluruh aktivitas kebaikan membutuhkan sabar.
Kedua, sabar dalam meninggalkan maksiat. Ketika ada keinginan bermaksiat, seorang hamba menahan diri karena takut kepada Allah.
Ketiga, sabar dalam menghadapi takdir yang terasa pahit. Ketika belum diberi kekayaan, diberi sakit, atau diuji, seorang hamba tetap bersabar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat memberikan kebahagiaan kepada seorang hamba walaupun ia tidak memiliki banyak hal. Allah menjanjikan kebahagiaan, tetapi tidak menjanjikan manusia terlepas dari kepayahan. Kepayahan dan kebahagiaan dapat berkumpul. Allah menyifati manusia hidup dalam kepayahan.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam kepayahan.” (QS. Al-Balad [90]: 4)
Jangan mengira orang yang tampak enak hidupnya tidak mengalami kepayahan. Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang hidup tanpa lelah dan tanpa kepayahan.
Bahkan orang yang terus-menerus tidur pun merasa payah. Badannya berat dan hidupnya tidak bahagia. Orang yang beraktivitas merasa payah, orang kaya merasa payah, orang miskin merasa payah, orang tua dan orang muda pun merasakan lelah.
Manusia yang paling sibuk adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, tetapi tetap dapat shalat Subuh di masjid.
Dan orang yang paling bahagia adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, meskipun hidup mereka penuh kepayahan, termasuk dalam peperangan. Abu Hurairah juga hidup bahagia, meskipun tidak memiliki banyak harta.
Kebahagiaan tidak berada pada harta. Orang yang mengejar kebahagiaan melalui harta tidak akan mendapatkannya. Allah menyebut kebahagiaan bagi orang yang beramal saleh dan beriman.
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sungguh Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97)
Allah menjanjikan kehidupan yang baik bagi laki-laki maupun perempuan yang beramal saleh dalam keadaan beriman.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kehidupan yang baik adalah lapangnya dada dan tenangnya hati. Ketika membaca Al-Qur’an, bersedekah walaupun seadanya, dan melakukan aktivitas yang baik, Allah memberikan ketenangan dan kebahagiaan. Hidup terasa nyaman meskipun keadaan sederhana dan rumah seadanya.
Berbeda dengan orang yang tidak memiliki iman, atau kebaikannya sedikit. Walaupun diberi dunia, hidupnya terasa sempit. Ia mencari makanan ke sana kemari, membeli dengan harga mahal, tetapi tetap tidak puas.
Sebaliknya, orang sederhana yang bekerja keras dapat makan dengan nikmat dan tidur dengan nyenyak. Karena itu, jangan mengira orang yang memiliki banyak hal pasti tidur nyenyak. Sebagian mereka bahkan membutuhkan obat tidur.
Kebahagiaan tidak perlu ditunggu nanti. Saat mengaji dan membaca Al-Qur’an, seorang hamba sudah merasakan kebahagiaan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hidup dalam kepayahan dan kelelahan, tetapi Allah memberikan kebahagiaan. Kebahagiaan berada di hati. Allah menyebutnya sebagai hayatan thayibah, kehidupan yang baik, yaitu lapangnya dada dan tenangnya hati.
Orang beriman mendapatkan kebahagiaan di dunia dan disiapkan surga di akhirat. Allah membalas mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan di dunia. Itulah kebahagiaan di atas kebahagiaan.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Sunnatullah tentang Pergantian Kaum” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56459-sunnatullah-tentang-pergantian-kaum/